Fenomena Demak Terendam Rob telah menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh masyarakat di pesisir utara Jawa Tengah selama bertahun-tahun. Kenaikan permukaan air laut yang masuk ke pemukiman warga tidak hanya merusak infrastruktur dan bangunan, tetapi juga membawa ancaman kesehatan yang serius. Air rob yang bercampur dengan limbah rumah tangga dan kotoran lingkungan menjadi sarang bakteri serta jamur yang sangat berbahaya bagi kesehatan kulit manusia. Warga yang setiap hari harus menerjang genangan air asin tersebut kini mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan yang sulit disembuhkan.
Kondisi Demak Terendam Rob yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan kulit warga sering terpapar air dalam durasi yang lama. Hal ini memicu munculnya penyakit seperti dermatitis, kutu air, hingga infeksi bakteri sekunder yang lebih parah. Kelembapan yang tinggi di sekitar kaki dan tangan yang sering terendam air membuat pelindung alami kulit melemah, sehingga mikroorganisme patogen mudah masuk ke dalam pori-pori. Tenaga kesehatan di puskesmas wilayah pesisir Demak melaporkan bahwa kasus gatal-gatal kronis menjadi keluhan paling dominan yang dialami oleh anak-anak hingga lansia setiap harinya.
Penanganan medis saat Demak Terendam Rob menjadi tantangan tersendiri karena sanitasi lingkungan yang buruk memperlambat proses penyembuhan. Meskipun pasien telah diberikan salep atau obat minum, risiko terpapar kembali sangat tinggi selama mereka masih tinggal di area yang tergenang. Mahasiswa kesehatan yang terjun ke lapangan mulai mengedukasi warga mengenai pentingnya penggunaan sepatu bot karet dan segera membasuh kaki dengan air bersih serta sabun antiseptik setelah beraktivitas di air rob. Edukasi ini sangat krusial untuk memutus rantai infeksi yang sering kali dianggap remeh oleh masyarakat setempat.
Selain masalah fisik, Demak Terendam Rob juga berdampak pada beban psikologis dan ekonomi warga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan. Kurangnya akses terhadap air bersih di wilayah terdampak memperparah kondisi sanitasi pribadi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dari pemerintah daerah untuk tidak hanya fokus pada pembangunan tanggul, tetapi juga pada penyediaan fasilitas kesehatan keliling dan bantuan obat-obatan kulit secara gratis. Kesehatan warga pesisir harus menjadi prioritas utama di tengah krisis iklim yang menyebabkan banjir rob semakin meluas setiap tahunnya.